Tidak sulit menyulap sampah menjadi mainan, hanya butuh kreatifitas dan sedikit ketekunan. Anak juga bisa dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga akan timbul rasa “memiliki” pada diri anak.
Jika seorang balita ditanya, “Nak, Ulang Tahun nanti mau hadiah apa”; bisa ditebak jawabannya pasti “Mainan”. Tak heran, sekarang ini toko khusus mainan anak-anak ada dimana-mana. Jenis mainannya juga sudah tak terhitung banyaknya, harganya juga bervariasi dari yang murah banget sampai yang mahal banget.
Dalam memilih mainan untuk balita, kita juga harus hati-hati. Mesti diperhitungkan faktor keamanannya. Ada kan mainan yang harganya murah banget….eh, nggak tahunya mengandung zat-zat berbahaya. Mainan yang mahal, umumnya mencantumkan label non toxic dan batasan umur anak yang dapat memainkannya. Tapi sayangnya, anak balita belum bisa merawat mainan. Rasa ingin tahunya masih sangat besar sehingga mainan tersebut tidak berumur panjang. Kalau diumpamakan sebuah bengkel, “terima bongkar tidak terima pasang”.
Aku sendiri jarang membelikan mainan untuk anakku, dan untungnya anakku juga bukan type anak yang harus selalu dituruti keinginannya. Jadi, kadang di toko mainan dia cuma lihat-lihat saja, pegang sana, pegang sini tapi tidak minta dibelikan. Di rumah, anakku memang punya banyak mainan tapi “warisan” dari sepupu-sepupunya.
Selain bermain dengan mainan “second” anakku juga bisa bermain dengan apa saja; misalnya kursi, ember, gelas & botol plastik bekas air mineral, kotak-kotak bekas, daun, rumput, batu, botol bedak baby, dll. Karena sifatnya yang bisa bermain dengan apa saja inilah yang mendorong aku untuk membuat mainan dari barang-barang bekas yang ada disekitar. Barang-barang yang biasa kumanfaatkan adalah kotak bekas kemasan susu UHT dan Koran atau majalah bekas. Salah satu mainan buatanku adalah truk kotak susu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar